Elara tinggal di sebuah rumah tua yang besar, terkurung di balik tembok tinggi yang menjulang. Rumah itu sekaligus penjara dan dunianya sendiri. Seumur hidup, Elara hanya berjalan di dalam tembok batu besar yang membatasi pandangannya. Seumur hidup, harapan terhadap dunia nyaris lenyap darinya, kecuali bunga-bunga kecil di taman di belakang rumah yang ia tanam sendiri.
Tanaman perkebunan adalah satu-satunya teman dan satu-satunya gairah yang ia miliki. Namun, suatu hari, saat membersihkan gulma di taman, Elara menemukan alat untuk memulihkan cinta ke dunia luar. Tembok, meski masih kokoh, namun terdapat sebuah celah.
Celahnya merupakan sebuah lubang saraf yang dia seret dengan dirinya ke jalan. Perlu dicatat, Valaria Elara memiliki tembok yang terlampau tinggi. Hari-hari yang ia habiskan di taman merawat bunga diselingi dengan harapan melihat jalan, orang-orang, dan langit dari celah kecil itu. Elara mulai memikirkan bagaimana ia bisa melihat dunia nyata itu dengan lebih dekat.
Dia pasti bisa melakukannya.ecer biasanya terlalu tinggi dan tebal, tetapi Elara tidak pernah kehilangan harapannya. Semua hari, ia menghabiskan waktu membaca buku-buku yang ditemukannya di rumah. Salah satu malam, ketika bulan purnama bersinar terang, Elara menemukan sebuah tangga tua, tersembunyi di belakang semak-semak.
Tangga itu tampak rapuh, tapi cukup kuat untuk tubuhnya tumpangannya. Dia merasa gugup, tapi Dia memulai pendakian itu.
Dan Dia naik di pedesaan perlahan dan akan saya bentuk hati-hati. Setelah beberapa waktu sesudahnya, dia tiba seterusnya misal tembok. Dia melihat dunia Punta dengan air mata di matanya. Dunia sebagai simpul yang dia bayangkan selerah ini celaka; engkau pun datang pada pelaksanaannya.
Dia mengambil napas ajal, tak sepatutnya ke mangap wajahnya. Untuk perpaduan paruh pertama ajal, dia sangka kepada leluasa. Lalu Dia mengundurkan diri akan dia tembok dan melakukan akan lalu masuk jalan Esak, dan ke sana Ia melihat ratusan orang-orang kasual. Dan mereka meronta-ronta kasual pada dia.
Dia menyadari aneka hal; lihat Muka kita yang dia sembunyikan akan dia dahaga. Namun dia tak pernah melupakan akan bunganya dalam taman kecil yang ia sayangi. Semoga Dia dapat memegang-pegang buat bunga itu selama Dia dapat Mitglied bebas atas tembok tinggi.
Penciptaan tetap sanggup dianggap olehnya akan aksi pertama. Terus lalu, Elara datang akan dia gang sempit di mana mana Terdapat butik-bâik yang panggilannya bercola serta buku menjual -beda dan langka bakal. Elara menyukai kegiatan bacaan dalam lingkungan satu jam. Nenek Sarah memperkenalkan Elara pada kaligrafi.
Elara ternyata memiliki bakat alami, dan ia langsung jatuh cinta pada keindahan huruf dan kalimat yang ditulis tangan. Ia mulai membuat kartu pos dan menggambar kaligrafi, menggambarkan bunga-bunga dan segala hal yang dialaminya.
Lukisan kaligrafi Elara serta kartu pos buatannya menjadi semakin populer di antara teman-temannya. Orang-orang ini memesan kartu pos dan lukisan untuk diberikan sebagai hadiah kepada orang-orang terdekat mereka. Semakin lama, Elara mulai menerima pesanan dari orang asing bahkan orang-orang dari luar kota.Setelah pameran itu, Elara mendadak menjadi seniman kaligrafi yang populer. Diundang ke berbagai tempat, dari acara formal hingga festival seni yang meriah, Elara selalu menunjukkan kreativitasnya.
Ia juga sering berbagi cerita tentang proses penciptaannya dan dari mana inspirasinya berasal, yang sangat menginspirasi banyak orang dari berbagai latar belakang dan usia.Pameran tunggal Elara ternyata sukses besar. Ada banyak orang yang datang untuk menyaksikan karya-karyanya, dan mereka tampaknya sangat terkesan.
Karya-karyanya memang menyampaikan keindahan dan makna yang mendalam, sehingga banyak pengunjung yang terhanyut dalam pesona estetika yang ditawarkannya. Pujian dan penghargaan pun bertumpangan ganda bagi Elara.Elara memutuskan untuk membuka toko kecil di dekat kafe favoritnya. Dia memilih lokasi itu karena sering menghabiskan waktu di sana.
Toko kecil itu diisi dengan kartu pos dan lukisan kaligrafi buatan tangan. Semuanya terlihat begitu cantik dan nyaman, dengan aroma kopi yang menyenangkan dan bau tinta kaligrafi yang kuat.Suatu hari, seorang kurator museum memutuskan untuk mampir ke toko Elara.
Betapa terkejutnya dia melihat semua karya yang dipajang di sana – sangat indah dan unik. Kurator itu tidak bisa menghilangkan kesan yang dia dapatkan dari koleksi Elara, dan dia merasa bahwa publik harus dapat menikmati keindahan tersebut juga. Akhirnya, dia menghampiri Elara dan menawarkan kesempatan untuk mengadakan pameran tunggal di museum tempat dia bekerja. Elara sangat gembira dan merasa bangga ketika menerima tawaran tersebut.Pemilik toko buku, seorang wanita tua yang bernama Nenek Sarah, memiliki kepribadian yang unik dan akhirnya menjadi teman baik Elara.
Ia memiliki banyak kisah menarik tentang kehidupannya, seperti yang biasa ia ceritakan dengan penuh antusias. Kadang ia membawa Elara dalam perjalanan imajiner ke negeri-negeri yang jauh, mengisahkan keajaiban alam dan kekayaan budaya yang beragam.
Pembicaraannya tentang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi selalu dipenuhi dengan semangat, mengingatkan Elara pada betapa luas dan beragamnya dunia di luar kota mereka.
Leave a comment