Di sebuah desa terpencil yang terletak di kaki Gunung Salak, hiduplah seorang gadis bernama Arini. Arini dikenal karena kecantikannya yang alami dan hatinya yang penuh kasih. Setiap pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk membantu ibunya berjualan di pasar.

Suatu hari, ketika Arini sedang membantu ibunya, ia melihat seorang lelaki tua yang tampak kebingungan. Lelaki itu berpakaian lusuh dan wajahnya dipenuhi kerutan. Arini merasa iba dan menghampiri lelaki tua itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Kek?” tanya Arini dengan lembut.

Lelaki tua itu menoleh dan tersenyum. “Saya tersesat, Nak. Saya ingin mencari rumah anak saya, tapi saya tidak tahu jalan,” jawabnya.

Arini merasa iba dan menawarkan diri untuk mengantar lelaki tua itu. Mereka berjalan bersama menyusuri jalanan desa yang berliku-liku. Arini dengan sabar mendengarkan cerita lelaki tua itu tentang anak dan cucu-cucunya.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana. Lelaki tua itu tampak sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih kepada Arini.

“Kamu adalah gadis yang baik hati, Nak. Semoga Tuhan selalu memberkatimu,” kata lelaki tua itu.

Arini tersenyum dan berpamitan kepada lelaki tua itu. Ia merasa senang karena bisa membantu orang lain.

Namun, tanpa Arini ketahui, lelaki tua itu sebenarnya adalah seorang dewa yang sedang menyamar. Ia ingin menguji kebaikan hati manusia. Setelah bertemu dengan Arini, ia merasa sangat terkesan dan memutuskan untuk memberikan hadiah kepada gadis itu.

Keesokan harinya, ketika Arini sedang membantu ibunya di pasar, ia menemukan sebuah kotak kecil di depan lapaknya. Kotak itu terbuat dari kayu cendana dan dihiasi dengan ukiran yang indah. Arini merasa penasaran dan membuka kotak itu.

Betapa terkejutnya Arini ketika melihat isi kotak itu. Di dalamnya terdapat sebutir biji emas yang berkilauan. Arini tidak tahu dari mana biji emas itu berasal, tetapi ia merasa sangat senang.

Arini membawa biji emas itu pulang dan menunjukkannya kepada ibunya. Ibunya juga merasa terkejut dan menyarankan Arini untuk menanam biji emas itu.

Arini menuruti saran ibunya dan menanam biji emas itu di halaman rumahnya. Setiap hari, ia menyirami dan merawat tanaman itu dengan penuh kasih.

Beberapa minggu kemudian, tanaman itu mulai tumbuh dan mengeluarkan bunga yang indah. Bunga itu berwarna keemasan dan mengeluarkan aroma yang harum. Arini sangat senang melihat tanaman itu tumbuh dengan subur.

Suatu hari, ketika Arini sedang menyirami tanaman itu, ia melihat sesuatu yang aneh. Di antara bunga-bunga emas itu, terdapat sebuah buah yang sangat besar. Buah itu berwarna merah menyala dan tampak sangat menggoda.

Arini merasa penasaran dan memetik buah itu. Ia membawa buah itu masuk ke dalam rumah dan membelahnya. Betapa terkejutnya Arini ketika melihat isi buah itu. Di dalamnya terdapat emas batangan yang sangat banyak.

Arini dan ibunya sangat senang dan bersyukur atas rezeki yang mereka terima. Mereka menggunakan emas itu untuk membangun rumah yang lebih bagus dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Arini tetap menjadi gadis yang rendah hati dan selalu membantu orang lain. Kebaikan hatinya telah membawa berkah yang tak terduga.

Posted in

3 responses to “Arini si gadis cantik”

Leave a reply to erita manurung Cancel reply

Design a site like this with WordPress.com
Get started